Minggu, 04 Januari 2009

APAKAH SAYA BISA BERHASIL SEPERTI MEREKA

Bisakah Saya Menjadi Seperti Mereka, Menjadi Orang Yang Berhasil



Saya adalah seorang guru honorer di sebuah sekolah negeri di Jakarta. Saya telah mendapat gelar S1 dari Sastra Inggris universitas ternama. Saya ingin sekali mendapat pekerjaan dengan masa depan yang lebih baik, karena sekarang saya hanya mendapat gaji per datang saja. Sedangkan seorang teman seangkatan saya sudah menjadi reporter di stasiun TV nasional dan kerap kali muncul di TV. Kemudian ada teman lain yang menjadi finalis beasiswa yang disiarkan di TV. Saya merasa mungkin sebenarnya saya juga bisa seperti mereka karena latar belakang pendidikan kami sama. Namun, saya selalu merasa sikap saya yang agak pendiam, minder dan tertutup ini tidak memungkinkan saya untuk maju.
Pertanyaan saya, bisakah saya mengubah sifat saya ini?
Bila ya, bagaimana caranya?
Saya ingin sekali berubah untuk menjadi lebih baik.
Demikian, semoga Pak Mario bisa membantu saya mengatasi masalah ini.
Terima kasih. Salam Super.

Meilda Ningsih, Jakarta


Mario Teguh menjawab:

Terima kasih atas pertanyaan baik Ibu Meilda Ningsih.

Menyalahkan kekurangan dari sifat-sifat Anda, tidak mengurangi sifat dari kekurangan-kekurangan Anda.

Ibu Melida yang baik, jadilah pribadi yang menghormati diri Anda sendiri.

Jangan pernah merendahkan diri sendiri dengan mengeluhkan kekurangan dari sifat-sifat Anda, terutama bila keluhan itu Anda gunakan untuk meminta pengertian orang lain mengenai kelemahan Anda dalam mencapai kualitas kerja dan hasil yang baik.

Itu hanya akan membuat Anda kedengaran sebagai seorang yang tidak memiliki rencana untuk memperbaiki diri. Itu adalah sikap orang-orang yang lemah.

Ibu Melida yang baik, bila keinginan untuk mengeluhkan kekurangan diri sendiri itu datang, ubahlah dengan ungkapan kesungguhan untuk memperbaiki hasil kerja Anda pada kesempatan berikutnya.

Itulah cara menyikapi kekurangan pada sifat-sifat kita.
Tidak mengeluhkannya …, tetapi berjanji dengan sungguh-sungguh kepada diri sendiri untuk bersikap dan berlaku lebih baik lagi sesegera mungkin.

Untuk menjadi apa pun, kita membutuhkan kesungguhan untuk menjadi.
Keinginan Untuk menjadi - tidak selalu diikuti oleh rencana untuk menjadi; dan rencana untuk menjadi – jarang sekali diikuti oleh tindakan untuk betul-betul menjadi.

Ibu Melida, mohon Anda perhatikan, semuanya membutuhkan kesungguhan, memang; tetapi pada banyak pribadi – kesungguhan itu dibentuk dari asap yang mudah berubah bentuk dan menghilang, dan akan muncul lagi – mungkin dengan bentuk yang baru, tetapi dengan cara menghilang yang sama.

Itu sebabnya, bukan hanya kesungguhan dan bukan hanya sembarang kesungguhan – yang menjadi biaya utama yang harus kita bayar untuk mencapai impian-impian kita; tetapi kesungguhan untuk menjadi pribadi yang kualitasnya memungkinkan pencapaian impian-impian kita.

Begitu dulu ya, Ibu Meilda Ningsih. Please keep up the super spirit.


Salam Super,
Mario Teguh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar